Hasil Pengkajian Kebijakan Penanganan Kesehatan COVID-19 di Berbagai Negara
Oleh Dept. Penelitian, Pendidikan, dan Keilmuan, PAMI Jakarta Raya 2020
1. Amerika Serikat
Jumlah kasus positif Covid-19 di USA per 11 Juli 2020 adalah sebanyak 3.355.646 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 137.402 kasus dan jumlah kasus sembuh sebanyak 1.489.420 kasus.
· Families First Coronavirus Response Act.
Ketua Kongres AS Nancy Pelosi mengatakan pihaknya dan Pemerintah telah mencapai kesepakatan paket kebijakan untuk melawan dampak negatif virus corona yaitu dengan menerapkan Families First Coronavirus Response Act. Undang-undang Respons Virus Corona mencakup antara lain:
o Memberikan tes virus corona secara gratis kepada semua yang membutuhkan, termasuk yang tidak dilindungi asuransi.
o Memberikan cuti sakit berbayar hingga dua minggu, dan menanggung gaji selama tiga bulan untuk cuti keluarga dan perawatan medis.
o Memberikan asuransi pengangguran yang lebih kuat bagi karyawan yang dirumahkan.
o Mendorong program perbaikan gizi untuk anak-anak sekolah dan lansia.
o Memberi dana tambahan untuk Medicaid, program asuransi bersama pemerintah federal dan negara bagian untuk masyarakat AS berpenghasilan rendah.
· Zero Tolerance
Pembatasan perjalanan di perbatasan utara dan selatan Amerika Serikat merupakan salah satu kebijakan yang diterapkan dalam menanggulangi penularan Corona. Dikhawatirkan para imigran yang membawa virus ke Amerika Serikat. Aturan tersebut memungkinkan pemerintah mengusir dan mendeportasi para imigran sesuai dengan kebijakan yang dibuat Trump yaitu Zero Tolerance yang merupakan kebijakan yang ditujukan untuk menghalangi masuknya imigran gelap. Melalui kebijakan tersebut Amerika Serikat memberikan wewenang kepada pemerintah federal untuk menuntut serta pidana para pelaku yaitu orang dewasa yang tertangkap melewati perbatasan secara illegal.
· Ventilator Surplus
Tidak ada satupun orang yang meninggal di Amerika karena kekurangan ventilator. Pemerintah AS menghabiskan beberapa miliar dolar untuk kontrak ventilator baru, dan presiden menggunakan undang-undang 70 tahun, Defense Production Act, untuk mendorong produsen mobil General Motors untuk beralih ke produksi ventilator dan merampingkan masalah rantai pasokan untuk produsen lain. Pada akhirnya, krisis ventilator tidak pernah terwujud karena meningkatnya pasokan, penggunaan yang rendah, permintaan yang lebih rendah.
2. Italia
Per tanggal 11 Juli 2020 (11.52 GMT) kasus Covid-19 di Italia mencapai angka 242.639 kasus dengan 34.938 kematian dan 194.273 telah sembuh.
Kebijakan mengenai Covid-19 di Italy antara lain:
· Pengujian massal, penyediaan perawatan di rumah, dan pelacakan kontak: The Veneto Model
Di daerah Veneto, Italia diterapkan The Veneto Model yang karakteristik utamanya adalah: (1) pengujian massal, termasuk pengujian kasus simptomatik ringan; (2) pengujian di rumah dan penyediaan perawatan; dan (3) melacak dan mengkarantina kontak. Baik meningkatkan kapasitas pengujian dan mengembangkan sistem pelacakan yang komprehensif telah diakui sebagai elemen penting untuk mengatasi epidemi. Menguji dan memberikan perawatan di rumah berfungsi untuk mencegah penyebaran virus.
Veneto mengadopsi model skrining populasi skala besar pada awal wabah, memungkinkan isolasi rumah untuk sejumlah besar kasus ringan (atau tanpa gejala). Strategi ini menghindari sistem kesehatan kewalahan dengan dampak positif yang berakibat pada tingkat kematian kasus di Veneto, yang saat ini hampir 3 kali lebih rendah daripada di Lombardia.
· Kebijakan parsial
Pemerintah Italia menangani pandemi Covid-19 dengan mengeluarkan serangkaian dekrite meningkatkan pembatasan di dalam area terkunci ("zona merah") secara bertahap, yang kemudian diperluas hingga akhirnya diterapkan ke seluruh negara. Dalam masa normal, pendekatan ini mungkin akan dianggap bijaksana. Namun dalam situasi ini, ia menjadi bumerang karena dua alasan. Pertama, itu tidak konsisten dengan penyebaran virus yang eksponensial cepat. Fakta-fakta di lapangan pada suatu titik waktu sama sekali tidak dapat diprediksi seperti apa situasinya beberapa hari kemudian. Akibatnya, Italia mengikuti penyebaran virus, bukan mencegahnya. Kedua, pendekatan selektif mungkin secara tidak sengaja memfasilitasi penyebaran virus. Keputusan awal untuk mengunci hanya beberapa daerah menyebabkan ketika dekrit mengumumkan penutupan Italia utara terjadi eksodus (meninggalkan tempat asal) secara besar-besaran ke Italia selatan, sehingga dapat menyebarkan virus ke daerah dimana sebelumnya tidak ditemukan kasus.
· Investigasi Harga Masker dan Gel Pembersih
Italia membuka penyelidikan untuk meroketnya harga online untuk masker dan gel pembersih. Polisi mengeluarkan peringatan bahwa para penjahat menggunakan identitas palsu dan menyamar sebagai inspektur kesehatan untuk mendapatkan akses ke rumah-rumah orang untuk mencuri uang, perhiasan, dan barang berharga lainnya.
3. Korea Selatan
Kasus COVID-19 di Korea Selatan per 11 Juli 2020 adalah 13.373 kasus positif, dengan 12.144 diantaranya sembuh, dan 288 diantaranya meninggal dunia.
Korea Selatan adalah salah satu negara yang masuk dalam peringkat teratas saat COVID-19 mulai merebak dan ditetapkan statusnya sebagai pandemi oleh WHO pada awal tahun ini. Namun saat ini Korea Selatan berhasil menurunkan peringkatnya hingga bisa keluar dari 50 besar negara pemegang kasus terbanyak. Korsel juga berhasil menekan jumlah kematian dengan tingkat kefatalan kasus (CFR/Case Fatality Rate) sebesar 2,16%, saat CFR dunia mencapai angka 4,46%.
Kim Chang Beom, Dubes Korea Selatan untuk Indonesia memaparkan dalam webinar yang diadakan oleh School of Government & Public Policy Indonesia (6 April 2020), bahwa pemerintah Korea Selatan menerapkan 4 strategi dalam penanganan wabah COVID-19 di negaranya, yakni cepat tanggap dalam penetapan wilayah atau distrik dengan kasus tinggi sebagai kawasan bencana khusus, melakukan pembatasan wilayah (bukan lockdown), pelaksanaan rapid test secara massal dan gratis, dan transparansi data kasus COVID-19. Diantara 4 strategi utama dan strategi pendukung lainnya, kebijakan yang menarik perhatian dunia adalah tidak diterapkannya sistem lockdown dan kebijakan pembelian dan penjualan masker
· Pemerintah tidak menerapkan kebijakan lockdown, namun menerapkan kebijakan pembatasan secara massal.
Semua strategi dikombinasikan dalam menangani sebuah cluster. Seperti cluster Daegu distrik yang mengalami ledakan kasus akibat seorang super spreader yang menghadiri kegiatan keagamaan mingguan. Pada kasus Daegu, pemerintah dengan cepat menerapkan status Daegu sebagai wilayah bencana khusus, sehingga kesadaran masyarakat akan pelaksanaan pencegahan penyebaran COVID-19 meningkat, sekolah dan perkantoran diliburkan, serta dilakukan pelarangan aktivitas yang kemungkinan besar akan menimbulkan kerumunan. Selanjutnya pemerintah Korea Selatan yang dikenal dengan kemajuan teknologi dan kecepatan koneksi internet nomor satu dunia juga menerapkan optimalisasi tracking. Penggunaan GPS dan CCTV di berbagai fasilitas umum seperti transportasi umum dan jalan-jalan raya mempermudah pencarian jejak kontak dengan pasien COVID-19 selama belum mendapatkan perawatan.
· Kebijakan pembelian masker yang tidak biasa
Seperti yang dilansir Yonhap news, masyarakat Korea bisa membeli masker berdasarkan angka terakhir tahun kelahiran setiap minggu di waktu yang telah ditentukan. Mereka hanya diperbolehkan membeli dua masker setiap minggunya. Misalnya, orang yang lahir pada tahun 1981 sampai 1986 dapat membeli masker pada hari Senin, sedangkan mereka yang lahir pada tahun 1982 sampai 1987 dapat membelinya pada hari Selasa. Sejak diterapkan, pada 9 Maret 2020, kebijakan ini telah berhasil meningkatkan pasokan masker dari 7 juta menjadi 9 juta dalam waktu 3 minggu. Pemerintah juga menjual masker dengan harga murah yakni 3000 won atau sekitar 39 ribu rupiah untuk 2 masker. Hal ini menyebabkan pengusaha yang melakukan penimbunan masker menjadi kesulitan menjual masker hasil timbunan mereka. Pemerintah Korsel mengatasi hal ini dengan mengimbau masyarakat Korea yang memiliki kelebihan persediaan masker untuk dijual kepada Kementerian Kesehatan Korea tanpa dilakukan sanksi apapun. Hal ini dianggap sebagai win-win solution untuk memudahkan pemerintah dalam menaikkan persediaan masker dan tanpa harus melakukan pencarian kepada oknum-oknum penimbun masker. Kebijakan ini menyebabkan kepercayaan masyarakat Korea terhadap persediaan masker pemerintah Korea tinggi.
4. India
Per 11 Juli 2020, kasus positif aktif di Italia adalah sebesar 4,335 kasus, kasus sembuh sejumlah 352,171 kasus, dan kasus meninggal sejumlah 17,521.
· Lockdown terbesar di dunia
Pada pertengahan Maret, terdapat penyebaran penyakit global yang substansial. Pada 24 Maret, Perdana Menteri Modi mengumumkan penguncian total atau lockdown selama 21 hari hingga 15 April.
Penguncian ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagai contoh, ini termasuk penghentian lebih dari 13.000 layanan penumpang kereta api sehari, untuk pertama kalinya dalam sejarah India sebagai sebuah negara, penghentian semua layanan penerbangan dan sebagian besar transportasi umum. Namun, kesinambungan layanan penting seperti pasokan listrik, air, energi, produk makanan, perbankan, bahkan pengiriman barang-barang penting ke tetangga India sudah terjamin.
· Melacak pergerakan orang-orang
Mengingat banyaknya kasus orang yang melarikan diri dan menolak karantina, negara-negara bagian di India telah mendorong warga untuk melakukan karantina sendiri di rumah. Pihak berwenang juga mencari cara untuk melacak pergerakan orang-orang. Di negara bagian Kerala di selatan, pihak berwenang menggunakan rekaman CCTV, catatan telepon genggam, dan bahkan teknologi GPS untuk melacak pergerakan sebuah keluarga yang baru kembali dari Italia pada akhir Februari.
· Pengawasan Masyarakat terhadap semua Penumpang melalui Jaringan Program Pengawasan Penyakit Terpadu (IDSP)
Penumpang dimonitor di masyarakat melalui jaringan ISP setiap hari. Saat ini 621.000 penumpang telah dibawa di bawah pengawasan dan diantaranya 33.249 ditemukan memiliki gejala dan dirujuk, 5.503 telah dirawat di rumah sakit sejauh ini. Hal ini memastikan bahwa tidak ada satu pun kasus positif yang dapat bercampur dengan populasi umum.
5. Vietnam
Hingga 11 juli 2020, terdapat 370 kasus positif COVID-19, dengan 350 diantaranya sembuh, dan 0 kasus kematian.
Kebijakan yang khas:
· Protokol karantina atau lockdown yang proaktif dan tegas, bahkan sebelum China melakukan lockdown.
Tidak lama setelah China melaporkan kasus pneumonia yang tidak biasa kepada WHO, Vietnam melakukan health risk assessment yang hasilnya membuat Vietnam memutuskan untuk menerbitkan protokol lockdown. Protokol ini diantaranya adalah skrining di bandara, jaga jarak, larangan perjalanan terhadap pelancong asing, periode karantina 14 hari terhadap pendatang internasional, penutupan sekolah, dan pembatalan acara publik. Khas lainnya dari Vietnam adalah penerapan protokol penggunaan masker pada tempat publik yang dipantau dengan baik, kebijakan ini diterapkan bahkan sebelum ada rekomendasi dari WHO, yang dikombinasikan dengan penempatan hand-sanitizers pada tempat publik, tempat kerja, dan bangunan tempat tinggal. Dalam penerapannya, Vietnam mengerahkan personil militer dan pantauan dari petugas keamanan dan intelijen untuk menegakkan protokol yang ada.
· Vietnam melakukan aktivitas tes dan tracing yang efisien berdasarkan sumber daya yang ada.
Tes yang dilakukan dari pemerintah Vietnam difokuskan pada kasus berisiko tinggi. Karenanya, hanya 350.000 tes dilakukan dari banyaknya populasi, tetapi rasio orang per kasus terkonfirmasi Vietnam merupakan angka yang tertinggi di dunia yaitu 1000 orang per kasus COVID-19 terkonfirmasi positif. Pelacakan kontak yang dilakukan Vietnam bersifat masif, dengan pelacakan tidak berhenti hanya pada orang yang melakukan kontak langsung dengan kasus positif tetapi hingga orang keempat. Selain upaya tracing dari pemerintah, masyarakat pun berperan dalam pelacakan kontak dengan memantau kondisi komunitas sekitarnya. Dari tracing yang komprehensif ini, sekelompok orang yang tinggal di dekat kasus positif COVID-15, dari komunitas dengan jalan atau desa yang sama, langsung di-tes dan diisolasi sehingga membantu mengurangi tingkat transmisi di komunitas.
· Konsistensi komunikasi yang transparan dilakukan pemerintah Vietnam sejak awal masa kesiapan terhadap COVID-19, disertai koordinasi masif dengan berbagai organisasi.
Pemerintah konsisten mengkoordinasi dengan baik semua media untuk menguatkan kepercayaan publik dan membantu masyarakat patuh terhadap protokol kesehatan yang ada. Edukasi mengenai COVID-19 diadakan melalui poster media massa, website pemerintah, organisasi masyarakat akar rumput, SMS, hingga ringtone sebelum panggilan seluler. Terdapat juga aplikasi tracing. Hal ini disertai dengan pemerintah Vietnam yang bersifat otoriter dianggap kurang lebihnya memiliki peran terhadap kepatuhan masyarakat. Hasilnya, peran masyarakat Vietnam terhadap penegakan protokol kesehatan tergolong besar. Masyarakat Vietnam kooperatif dan taat terhadap peraturan karantina.
6. Malaysia
Jumlah kasus positif COVID-19 di Malaysia hingga tanggal 11 Juli 2020 adalah sebanyak 8.696 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 121 kasus dan jumlah kasus sembuh sebanyak 8.511 kasus. Malaysia adalah salah satu negara pertama yang mengeluarkan berbagai tanggapan cepat untuk melindungi warganya dari COVID-19. Tujuan utamanya adalah untuk meminimalkan dampak ekonomi dan sosial, membatasi penyebarannya dan memberikan perawatan bagi warganya.
Untuk mencegah penyebaran COVID-19 lebih luas, upaya yang dilakukan oleh kementerian kesehatan Malaysia yaitu :
· Meningkatkan kapasitas pelayanan kesehatan
Malaysia secara drastis meningkatkan fasilitas kesehatan dan kapasitas diagnostik pada Februari 2020, termasuk peningkatan 86% dalam kapasitas laboratorium diagnostik, peningkatan 89% dalam kapasitas tempat perawatan kritis, dan peningkatan 49% dalam jumlah ventilator yang tersedia. Selain itu Malaysia juga meningkatkan jumlah rumah sakit yang dapat menangani kasus COVID-19 seperti mendirikan rumah sakit darurat di Agro Exposition Park Serdang. Rumah sakit ini akan digunakan sebagai pusat karantina dan perawatan untuk pasien berisiko rendah, dan 604 tempat tidur telah disiapkan untuk memenuhi kasus yang sudah terkonfirmasi dengan atau tanpa gejala COVID-19. Tiga ribu perawat yang sudah pensiun akan kembali sebagai sukarelawan untuk melawan COVID-19 bersama dengan para pemimpin garis depan negara itu.
· Menerapkan Movement Control Order (MCO)
Di Malaysia, MCO dilaksanakan pada tanggal 18 Maret untuk mengendalikan penyebaran COVID-19 secara nasional. MCO terkait dengan pembatasan perpindahan orang ke atau keluar dari suatu daerah. Kebijakan ini diberlakukan dibawah Undang-Undang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular 1988 dan Undang-Undang Kepolisian 1967. Pemerintah memberlakukan 6 batasan yaitu :
1. Masyarakat dilarang menghadiri pertemuan massal seperti acara keagamaan, olahraga, sosial, dan budaya. Semua tempat ibadah dan bisnis ditutup sementara. Namun, masyarakat dapat membeli barang-barang penting di pasar, supermarket, toko kelontong dan toko serba ada.
2. Masyarakat diminta untuk mengikuti skrinning kesehatan untuk mendeteksi COVID-19 dan melakukan isolasi mandiri setelah kembali dari luar negeri
3. Turis asing dan pengunjung dilarang masuk ke Malaysia
4. Taman kanak-kanak, sekolah pemerintah, dan swasta termasuk sekolah harian, sekolah berasrama, sekolah internasional, pusat tahfiz, lembaga primer, sekunder dan institusi lainnya ditutup.
5. Lembaga publik dan perguruan tinggi serta lembaga pelatihan keterampilan nasional ditutup.
6. Gedung pemerintah dan swasta ditutup kecuali untuk layanan penting (air, listrik, energi, telekomunikasi, pos, transportasi, irigasi, minyak, gas, bahan bakar, pelumas, penyiaran, keuangan, perbankan, kesehatan, farmasi, kebakaran, penjara, pelabuhan, bandara, keamanan, pertahanan, kebersihan, dan pasokan makanan).
· Transparansi Informasi
Kementerian Kesehatan juga berupaya transparan dalam menangani pandemi dengan memberikan informasi yang cukup dan terkini kepada publik melalui tiga platform utama yaitu, portal resmi Kementerian Kesehatan, akun Facebook khusus yang disebut Crisis Preparedness and Response Centre (CRPC), Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM), dan CRPC KKM Telegram. Kementerian telah memberikan program kesadaran tentang langkah-langkah dasar perlindungan dan kebersihan untuk meminimalkan penularan SARS CoV-2 dalam bentuk diagram sederhana untuk menjangkau masyarakat dengan mudah. Kementerian Kesehatan juga telah melakukan briefing pers harian dan telah menerbitkan berita yang relevan tentang COVID-19 untuk meningkatkan keterlibatan publik dan memastikan akses ke informasi yang akurat.
7. Indonesia
Jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia per 11 Juli 2020 adalah sebanyak 72.347 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 3.469 kasus dan jumlah kasus sembuh sebanyak 33.529 kasus.
Kebijakan :
· PSBB
Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 Tahun 2020 tentang Pedoman PSBB dalam rangka Percepatan Penanganan Covid-19 ditetapkan pada 3 April 2020. Kebijakan PSBB antara lain: 1) Peliburan sekolah dan tempat kerja; 2) Pembatasan kegiatan keagamaan; 3) Pembatasan kegiatan di tempat/fasilitas umum; 4) Pembatasan kegiatan sosial budaya; 5) Pembatasan moda transportasi; dan 6) Pembatasan kegiatan lainnya terkait aspek pertahanan dan keamanan.
Pada 7 April 2020, Menkes menyetujui PSBB untuk diterapkan di DKI Jakarta. PSBB dilakukan selama 14 hari. Ojek online dilarang membawa penumpang. Jadwal KRL dievaluasi ulang dan dikurangi. Di wilayah Jabodetabek, akan dibagikan sembako senilai Rp 200 ribu per keluarga. Nantinya penerima bantuan akan mendapakan Rp 600 ribu per keluarga yang diberikan selama kurun waktu 3 bulan.
· Protokol Kesehatan
Kemenkes mematok suhu 38 C sebagai titik demam. Pemerintah merujuk mereka yang demam ke RS terdekat. Kemudian, pemerintah juga menghimbau masyarakat untuk menggunakan masker. Untuk kondisi darurat, bila bersin atau batuk di area umum tutuplah mulut dengan siku bagian dalam atau lengan baju bagian atas. Masyarakat yang sakit juga dihimbau untuk tidak menggunakan transportasi umum untuk meminimalisir kemungkinan risiko penyebaran penyakit. Apabila ditemukan ada yang meemnuhi kriteria suspect COVID-19 (demam, flu, batuk), mereka akan dirujuk ke salah satu RS rujukan COVID-19 dan dirawat dalam ruang isolasi. Jika tidak memenuhi kriteria penanganan akan menyesuaikan dengan rujukan dari dokter yang memeriksa.
· Komunikasi publik
Sasaran khalayak dapat dijangkau melalui berbagai kanal, baik melalui media mainstream, media sosial maupun melalui jaringan komunikasi yang telah terbentuk. Berikut adalah daftar kanal yang bisa digunakan: ● Website sebagai rujukan pertama. Silahkan merujuk kepada website resmi Kemenkes khusus untuk COVID-19. ● Televisi ● Media Cetak ● Media Online ● Radio ● SMS gateaway ● Media Sosial ● Jaringan sekolah ● Jaringan organisasi kepemudaan/agama/politik ● Jaringan informal lainnya
Daftar Pustaka
Anthony Zurcher (2020) Coronavirus response: Things the US has got right - and got wrong, BBC News. Tersedia pada: https://www.bbc.com/news/world-us-canada-52579200.
Anzolin, Eliza., A. A. (2020) First Italian dies of coronavirus as outbreak flares in north, Reuters. Tersedia pada: https://www.reuters.com/article/us-china-health-italy/coronavirus-outbreak-grows-in-northern-italy-16-cases-reported-in-one-day-idUSKBN20F0UI.
Elengoe, A. (2020) “COVID-19 Outbreak in Malaysia,” Osong Public Health and Research Perspectives, 11(3), hal. 93–100. doi: 10.24171/j.phrp.2020.11.3.08.
Baskoro, F. M. (2020) Lawan Virus Corona, Ini Kebijakan AS untuk Warganya, Berita Satu. Tersedia pada: https://www.beritasatu.com/dunia/608593-lawan-virus-corona-ini-kebijakan-as-untuk-warganya.
Chadwick, Lauren (2020) COVID-19 may have been in Italy as early as December 2019, according to new research, Euronews. Tersedia pada: https://www.euronews.com/2020/06/19/covid-19 may-have-been-in-italy-as-early-as-december-2019-according-to-new-research.
Gabriele Ciminelli, S. G.-M. (2020) COVID-19 in Italy: An analysis of death registry data, VOX, CEPR Policy Portal. Tersedia pada: https://voxeu.org/article/covid-19-italy-analysis-death-registry-data.
Gary P. Pisano, R. S. dan Zanini, M. (2020) Lessons from Italy’s Response to Coronavirus, Harvard Business Review. Tersedia pada: https://hbr.org/2020/03/lessons-from-italys-response-to-coronavirus (Diakses: 13 Juli 2020).
Grossi, U., Zanus, G., & Felice, C. (2020). Coronavirus disease 2019 in Italy: The Veneto model. Infection control and hospital epidemiology, 1–2. Advance online publication. https://doi.org/10.1017/ice.2020.225
International Monetary Fund. (2020). Vietnam's Success in Containing COVID-19 Offers Roadmap for Other Developing Countries. Tersedia pada: https://www.imf.org/en/News/Articles/2020/06/29/na062920-vietnams-success-in-containing-covid19-offers-roadmap-for-other-developing-countries (Diakses: 11 Juli 2020)
Kementerian Luar Negeri RI. (2020). Kebijakan Pemerintah Indonesia Terkait Wabah COVID-19. Tersedia pada: https://kemlu.go.id/brussels/id/news/6349/kebijakan-pemerintah-republik-indonesia-terkait-wabah-covid-19 (Diakses: 7 Juli 2020).
Kementerian Kesehatan RI (2020) “Penanganan covid-19 protokol komunikasi publik.”
Kompas, 6 April 2020. (https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/06/193300423/tanpa-lockdown-apa-rahasia-korea-selatan-sukses-tangani-corona-?page=all)
Mee, E. (2020) Coronavirus: Italian army called in as crematorium struggles to cope with deaths, Sky News. Tersedia pada: https://news.sky.com/story/coronavirus-italian-army-called-in-to-carry-away-corpses-as-citys-crematorium-is-overwhelmed-11959994 (Diakses: 13 Juli 2020).
Muhammad Faisal (2020) Kebijakan Amerika Serikat terhadap Penutupan Perbatasan dalam Mencegah Penyebaran Virus Corona, Kompasiana. Tersedia pada: https://www.kompasiana.com/faisaln20/5ee100ad097f363f7c6ec3f2/kebijakan-amerika-serikat-terhadap-penutupan-perbatasan-dalam-mencegah-penyebaran-virus-corona-covid-19?page=all#sectionall.
Putri, R. (2020). Bagaimana Vietnam Memenangkan Perang Lawan COVID-19. Tersedia pada: https://tirto.id/bagaimana-vietnam-memenangkan-perang-lawan-covid-19-fflA (Diakses: 7 Juli 2020)
Rahman, F. (2020) The Malaysian Response to COVID-19: Building Preparedness for ‘Surge Capacity’, Testing Efficiency, and Containment – From the Desk of the Director-General of Health Malaysia. Tersedia pada: https://kpkesihatan.com/2020/06/16/the-malaysian-response-to-covid-19-building-preparedness-for-surge-capacity-testing-efficiency-and-containment/ (Diakses: 7 Juli 2020).
Shah, A. U. M. et al. (2020) “COVID-19 Outbreak in Malaysia: Actions Taken by the Malaysian Government,” International Journal of Infectious Diseases, 97. doi: 10.1016/j.ijid.2020.05.093.
Worldometers (2020) COVID-19 Coronavirus Pandemic. Tersedia pada: https://www.worldometers.info/coronavirus/?utm_campaign=homeAdvegas1?
Worldometers. (2020). Vietnam Coronavirus. Tersedia pada: https://www.worldometers.info/coronavirus/country/viet-nam/ (Diakses: 7 Juli 2020)
Worldometers. (2020). Italy Coronavirus. Tersedia pada: https://www.worldometers.info/coronavirus/country/italy/
Komentar
Posting Komentar